Rusia Diduga Telepon Pemberontak Ukraina yang Jatuhkan Pesawat Malaysia Airlines MH17

54

AMSTERDAM, KOMPAS.com – Tim penyelidik internasional memaparkan bukti baru dugaan keterlibatan Rusia dalam jatuhnya pesawat Malaysia Airlines MH17 oleh pemberontak Ukraina.

Mereka menyebut ada serangkaian percakapan telepon yang memaparkan hubungan Kremlin dengan pemberontak “jauh lebih erat” dari yang dibayangkan.

Tim Investigasi Gabungan (JIT) yang dipimpin Belanda menyatakan, telepon antara pejabat Rusia dengan pemberontak Ukraina yang dituduh menembak MH17 makin intensif pada Juli 2014.

Dilansir Al Jazeera Kamis (14/11/2019), temuan itu memunculkan pertanyaan apakah Moskwa terlibat dengan menyediakan rudal yang dipakai menembak pesawat Malaysia Airlines itu.

“Terdapat cukup banyak telepon harian yang terjadi antara pemimpin DPR dengan kontak mereka di Rusia,” ujar JIT dalam keterangan resmi.

JIT merujuk kepada singkatan kelompok pemberontak Republik Rakyat Donetsk, di mana pembicaraan itu menggunakan saluran aman yang disediakan Moskwa.

Seluruh 298 orang yang ada di pesawat Malaysia MH17 tewas ketika ditembak di timur Ukraina ketika tengah terbang dari Amsterdam ke Kuala Lumpur, 17 Juli 2014 silam.

Andy Kraag, Kepala Divisi Investigasi Kriminal Kepolisian Belanda berujar, telepon itu menunjukkan “dekatnya” pejabat Rusia dengan pemberontak.

Adapun pemberontak maupun pemerintah Negeri “Beruang Merah” sama-sama membantah sudah menembak pesawat yang membawa 283 penumpang dan 15 awak itu.

Sebelumnya, penyelidik menemukan bahwa pecahan rudal yang menghantam MH17 berasal dari pangkalan militer Kursk Rusia, tak jauh dari perbatasan Ukraina.

Juni lalu, JIT mendakwa tiga warga Rusia dan satu pria Ukraina yang dianggap bertanggung jawab atas tragedi lima tahun silam itu.

Mereka yang didakwa adalah mantan agen intelijen Rusia Igor Girkin, Sergei Dubinsky, Oleg Pulatov, serta Leonid Kharchenko.

Kontak dengan Pejabat Senior Putin

Rekaman itu mengungkap dua dari pemimpin DPR menjalin kontak dengan Vladislav Surkov, pejabat senior Presiden Vladimir Putin, dan pemimpin Crimea Sergey Aksyonov.

Dalam percakapan bertanggal 3 Juli 2014, jaksa penuntut menyatakan Surkov sempat berbicara kepada DPR bahwa bantuan dari Rusia akan datang.

“Pada Sabtu, mereka akan segera dikerahkan ke kawasan selatan supaya siap untuk bertempur,” ujar Surkov dalam rekaman tersebut.

JIT kemudian merilis rekaman itu di situs mereka, dan meminta setiap saksi untuk menghubungi mereka guna mengenali si penelepon.

Rusia melalui juru bicara kementerian luar negeri Maria Zakharova dalam konferensi pers mengatakan, mereka tak bisa melakukan verifikasi kebenarannya.

Dia menuturkan bahwa kabar pencegatan percakapan itu merupakan “berita palsu”, dan harus disikapi dengan sikap skeptis.

Sebelumnya, Negeri “Beruang Merah” menyanggah tuduhan negara Barat bahwa mereka mengirim pasukan, senjata, dan bantuan dana kepada pemberontak Ukraina.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here